Jumat, 17 April 2015

Doktrin Sesat Ajaran Syi'ah (9) Orang Diluar Syi'ah adalah Kafir



Yusuf al-Bahrani, dalam al-Hadaa-iq al-Nadhirah fi Ahkaam al-‘Ithrah al-Thaahirah, hal. 136

 “Orang yang menyelisihi (Syi’ah), hakikatnya bukan orang Islam. Dan sesungguhnya orang yang menyelisihi (Syi'ah) sebenarnya adalah kafir.” Ia tidak membedakan antara kufur kepada Allah dan kufur kepada para imam, dengan alasan bahwa imamah termasuk masalah ushuluddien (pokok agama) berdasarkan nash ayat dan hadits yang sangat jelas. Di antaranya pernyataannya,
“: engkau telah mengetahui bahwa orang yang menyelisihi (Syi'ah) adalah kafir, tidak memiliki bagian dalam Islam dari berbagai sisinya, sebagaimana telah kami pastikan dalam kitab kami al-Syihab al-Syaqib.”
Al-Maaqami, dalam Tanqih al-Maqaal fii ‘Ilmi al-Rijal, pada faidah yang ke-20, hal. 208, menukil dari al-Muhaqqiq al-Bahrani dan dari riwayat-riwayat yang banyak bahwa orang yang bukan Syi'ah Istna ‘Asyariyah adalah kafir dan musyrk.
Syaikh Husain bin Ali ‘Ushfur al-Dararial-Bahrani dalam kitabnya, al-Mahasin al-Nafsaniyyah fii Ajwibah al-Masaa-il al-Khurasaaniyyah, hal. 17: Orang-orang Syi’ah menggelari orang-orang Sunni atau Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan al-Naashibah. Menurut keyakinan Syi’ah, mereka lebih najis daripada anjing dan lebih kufur daripada Yahudi dan Nashrani.
Dia mengatakan,
بَلْ أَخْبَارُهُمْ عَلَيْهِمُ السَّلامُ تُنَادِي بِأَنَّ النَّاصِبَ هُوِ مَا يُقَالُ لَهُ عِنْدَهُمْ سُنِّياًّ
“Bahkan kabar-kabar dari mereka (para imam) menyerukan bahwa yang dimaksud al-Nashib adalah yang dikenal dikalangan mereka dengan Sunni.”
Muhsin al-Mu’allim, dalam kitabnya al-Nushbu wa al-Nawashib, hal. 609,
“Sayyid al-Khu-iberkata: dan lebih jelasnya seorang nashib hukumnya kafir walau ia menampakkan (ucapan) dua kalimat syahadat dan keyakinan kepada hari kiamat.”
Syi'ah mengkafirkan setiap orang yang mengingkari ajaran mereka.Pengkafiran macam ini merupakan dosa yang sangat besar.Seorang yang Bersyahadat,meyakini Rukun Iman dan menjalankan rukum islam,maka dia bagian dari Islam.
Allah Ta'ala berfirman,
"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya."(4:136)
Rasulullah bersabda,
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَه وَأنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله، وَيُقِيْمُوْا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوْا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوْا ذَلِكَ عَصَمُوْا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقَِهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى الله
“Aku disuruh supaya memerangi manusia sehingga mereka bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, menegakkan sholat dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan semua itu, maka darah dan harta mereka telah terjaga dariku kecuali dengan haknya, dan hisab mereka terserah kepada Allah.” (Diriwayatkan oleh Muslim)
Lalu bagaimana dengan syi'ah?bukankah mereka juga bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan,dan Muhammad adalah Rasul-Nya?
Sesungguhnya syahadat mereka gugur,karena keyakinan mereka sudah rusak.Mereka mengubah kalimat syahadat,membuat buat Rukun Islam dan Rukun Iman versi mereka sendiri,Mencela para sahabat Nabi,tidak mengerjakan Shalat 5 waktu,tidak meyakini kemurnian Al-Qur'an,suka berdusta,menghalalkan mut'ah,menghalalkan khamar,dan mengkafirkan orang di luar golongannya tanpa alasan yang syar'i..
Dengan doktrin syi'ah yang semacam ini,maka pantang bagi kita (sunni) menjalin persahabatan dan persaudaraan dengan syi'ah.Kerena sejatinya mereka menganggap kita Kafir, lebih najis dari anjing dan lebih kufur dari yahudi dan nasrani.

Doktrin Sesat Ajaran Syi'ah (8)Rukun Islam dan Rukun Iman Syi'ah



1. Ahlussunnah : Rukun Islam kita ada 5 (lima)
a) Syahadatain
b) As-Sholah
c) As-Shoum
d) Az-Zakah
e) Al-Haj
Syiah : Rukun 'Islam" ala Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda:
a) As-Sholah
b) As-Shoum
c) Az-Zakah
d) Al-Haj
e) Al wilayah
2. Ahlussunnah : Rukun Iman ada 6 (enam) :
a) Iman kepada Allah
b) Iman kepada Malaikat-malaikat Nya
c) Iman kepada Kitab-kitab Nya
d) Iman kepada Rasul Nya
e) Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat
f) Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.
Syiah : Rukun Iman Syiah ada 5 (lima)*
a) At-Tauhid
b) An Nubuwwah
c) Al Imamah
d) Al Adlu
e) Al Ma’ad
Penjelasan :
dalam rukun "Islam" Syiah tidak ada syahadat. Rukun Islam Syiah itu shalat, zakat, puasa, haji, dan Al-Wilayah (meyakini kepemimpinan 12 imam syiah).
Syahadat dipisahkan dari rukun "Islam" Syi'ah,adapun syahadat syi'ah ada Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka
Kemudian rukun iman Syiah yaitu percaya kepada ke Esa an Allah, keadilan, kenabian, imam, dan hari kiamat.
Percaya kepada dua belas imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka.
Berbeda dengan syi'ah,Penjelasan tentang Rukun Iman dan Rukun Islam sunni mempunyai sumber yang ada dalam Al-Qur'an,yaitu
1. Penjelasan Rukun Iman
" Wahai orang-orang yang beriman! Tetapkanlah iman kamu kepada Allah dan RasulNya, dan kepada Kitab Al-Quran yang telah diturunkan kepada RasulNya (Muhammad s.a.w) dan juga kepada Kitab-kitab Suci yang telah diturunkan dahulu daripada itu dan sesiapa yang kufur ingkar kepada Allah dan Malaikat-malaikatNya, dan Kitab-kitabNya dan Rasul-rasulNya dan juga Hari Akhirat, maka sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang amat jauh." (Surah An-Nisaa': 136)
" Tidak ada sesuatu kesusahan (atau bala bencana) yang ditimpakan di bumi dan tidak juga yang menimpa diri kamu, melainkan telah sedia ada di dalam Kitab (pengetahuan Kami) sebelum Kami menjadikannya; sesungguhnya mengadakan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kamu diberitahu tentang itu) supaya kamu tidak bersedih hati akan apa yang telah luput daripada kamu dan tidak pula bergembira (secara sombong dan bangga) dengan apa yang diberikan kepada kamu dan (ingatlah), Allah tidak suka kepada tiap-tiap orang yang sombong takbur, lagi membanggakan diri. (Surah Al-Hadid: 22-23)
2. Penjelasan Rukun Islam :
"Allah menerangkan (kepada sekalian makhlukNya dengan dalil-dalil dan bukti), bahawasanya tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang sentiasa mentadbirkan (seluruh alam) dengan keadilan dan malaikat-malaikat serta orang-orang yang berilmu (mengakui dan menegaskan juga yang demikian); tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana." (Surah Ali ‘Imran : 18)

"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
(Al-Quran Surat 33:40)
"Sesungguhnya solat itu adalah satu ketetapan yang diwajibkan atas orang-orang yang beriman, yang tertentu waktunya. " - (Surah An-Nisaa’: 103)
" Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu, semoga kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa. " - (Surah Al-Baqarah: 183)
" Pada hal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadat kepadaNya, lagi tetap teguh di atas tauhid dan supaya mereka mendirikan solat serta memberi zakat dan yang demikian itulah agama yang benar." (Surah Al-Baiyinah : 5)
" Di situ ada tanda-tanda keterangan yang nyata (yang menunjukkan kemuliaannya; di antaranya ialah) Makam Nabi Ibrahim dan sesiapa yang masuk ke dalamnya aman tenteramlah dia dan Allah mewajibkan manusia mengerjakan ibadat Haji dengan mengunjungi Baitullah iaitu sesiapa yang mampu sampai kepadanya dan sesiapa yang kufur (ingkarkan kewajipan ibadat Haji itu), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak berhajatkan sesuatu pun) dari sekalian makhluk. " (Surah Ali ‘Imran : 97)
Syi'ah telah mengada-ngadakan (bid'ah) kesesatan yang sangat besar yaitu merubah rukun Iman dan Rukun Islam.Apa yang mereka lakukan kemudian mereka yakini ini telah mengeluarkan mereka dari ajaran Tauhid sehingga mereka tidak pantas disebut islam.
Imam Asy Syathiby menggolongkan bid'ah yang dilakukan oleh Syi'ah ini apabila di lihat dari kadar dosanya termasuk bid'ah Bid’ah mukaffirah yaitu setiap bid’ah yang menyebabkan pelakunya menjadi kafir, keluar dari Islam. Bid’ah ini biasanya berkaitan dengan keyakinan sebagaimana keyakinan yang di anut oleh syi'ah.
Begitu juga Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab,telah memandang kafir keyakinan yang di anut oleh orang syi'ah.Akan tetapi orang syi'ah menyebarkan fitnah dan berita dusta terhadap beliau dengan mengatakan bahwa Syaikh Muhammad mengkafirkan setiap pelaku bid'ah yang menyelisihi dakwah beliau,padahal tidak demikian.
Fitnah keji itu dibantah beliau sendiri,
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata :
"Mengenai pengkafiran, saya mengkafirkan orang lain setelah (saya dan orang tersebut) benar-benar mengetahui petunjuk (hadits) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tetapi orang tersebut kemudian malah mencaci maki beliau (Rasulullah) dan melarang orang lain mengikuti (ittiba' kepada Rasulullah (seperti Syi'ah- penj) Terhadap orang ini saya berani mengkafirkannya. Namun, syukur alhamdulillah sebagian besar umat Islam tidak seperti itu. Mengenai memerangi, kami tidak pernah memerangi siapapun, kecuali demi mempertahankan nyawa dan kehormatan. Kalau demi hal itu, kami akan berperang. Allah berfirman : "Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa (Qs. Asyura : 40). Demikian pula dengan orang yang secara nyata terang-teranganmencaci maki atau menghujat Rasulullah, setelah ia mengenal beliau". (Ad-Durar As-Sunniyah, I/83)
Kami juga tidak berani mengkafirkan orang yang masih memiliki agama yang sah, masih terlihat baik, Nampak bersifat wira'i , berprilaku baik, mau menyampaikan nasehat kepada ummat danmasih mau mengajarkan ilmu-ilmu yang bermanfa'at kepada manusia serta menulisnya, walaupun ia bersalah dalam beberapa hal. (Ad-Durar As-Sunniyah, I/236).
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa syi'ah tidak ittiba' kepada Rasulullah,mereka lebih taat dan memuliakan imam Ali.Bahkan menurut mereka taat kepada Imam Ali lebih utama daripada taat kepada Allah sekalipun.
Mereka juga mengingkari hadist hadist Rasulullah yang banyak ditulis dan diriwayatkan oleh salafush shaleh.
Tidak hanya itu,bahkan sebagian dari mereka berani mencaci Rasulullah shalallahu alaihi wasalam.Seperti statement Pentolah syi'ah indonesia Jalaluddin Rakhmat yang menuduh Nabi Muhammad s,a.w pernyihir dan Nabi yang Gagal.
," Ajaib, Muhammad adalah seorang yang cerdas dan seorang penyihir yang brilian. Ternyata dia tidak berhasil mengorganisasikan masyarakat sesudahnya, karena dia tidak meninggalkan siapa pemimpin masyarakat sesudahnya. Dia pergi begitu saja, tanpa meninggalkan siapa yang dia amanati untuk meneruskan memimpin masyarakat,”
Dan masih banyak celaan orang orang syi'ah kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasalam yang insyaAllah akan saya sampaikan pada tulisan yang lain.
Orang seperti syiah inilah yang di kafirkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.

Doktrin Sesat Ajaran Syi'ah (7)Nikah Mut'ah atau Kawin Kontrak



Dalam referensi Syiah disebutkan pahala nikah mut’ah:
Menghalalkan nikah mut’ah, bahkan menurut doktrin Syi’ah orang yang melakukan kawin mut’ah empat kali derajatnya sama tingginya dengan Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alayhi wasallam (Tafsîr Minhajush Shâdiqîn hlm. 356, oleh Mullah Fathullah Kasanî).
Dari Shaleh bin Uqbah, dari ayahnya, “Aku bertanya pada Abu Abdullah, apakah orang yang bermut’ah mendapat pahala?” Jawabnya, “Jika karena mengharap pahala Allah dan tidak menyelisihi wanita itu, maka setiap lelaki itu berbicara padanya pasti Allah menuliskan kebaikan sebagai balasannya, setiap dia mengulurkan tangannya pada wanita itu pasti diberi pahala sebagai balasannya. Jika menggaulinya pasti Allah mengampuni sebuah dosa sebagai balasannya, jika dia mandi maka Allah akan mengampuni dosanya sebanyak jumlah rambut yang dilewati oleh air ketika sedang mandi.” Aku bertanya, “Sebanyak jumlah rambut?” Jawabnya ,” Ya, sebanyak jumlah rambut.“
Abu Ja’far berkata “ketika Nabi sedang isra’ ke langit berkata, Jibril menyusulku dan berkata, wahai Muhammad, Allah berfirman, Sungguh Aku telah mengampuni wanita ummatmu yang mut’ah. (Man La Yahdhuruhul Faqih jilid 3 hal 464)
BOLEH NIKAH MUT'AH TANPA SAKSI
Dari Zurarah bin A’yan, ia berkata : Abu ‘Abdillah ‘alaihis-salaam pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang menikahi wanita tanpa ada saksi-saksi, maka ia menjawab, “Tidak mengapa dengan pernikahan yang terjadi antara dirinya dan Allah. Dijadikan saksi-saksi dalam pernikahan itu hanyalah karena (keberadaan) anak (yang dihasilkan). Jika tidak demikian (tanpa saksi-red), maka tidak mengapa” [Al-Kaafiy, 5/387].
Dari Abu ‘Abdillah ‘alaihis-salaam tentang seorang laki-laki yang menikah tanpa adanya bukti, maka ia menjawab, “Tidak mengapa.” [Al-Kaafiy, 5/387].
Ulama Syi’ah yang bernama ‘Abdullah bin Ja’far Al-Himyariy pernah ditanya, “Apa yang engkau katakan tentang seorang laki-laki yang menikahi seorang wanita pada posisi ini atau yang lainnya tanpa ada bukti maupun saksi-saksi ?” Ia menjawab, “Ya, nikahilah ia tanpa ada bukti dan saksi-saksi.” [Qurbul-Isnaad oleh ‘Abdullah bin Ja;far Al-Himyariy, hal. 252].
secara istilah,nikah mut'ah/kawin kontrak adalah perkawinan antara seorang lelaki dan wanita dengan maskawin tertentu untuk jangka waktu terbatas yang berakhir dengan habisnya masa tersebut, dimana suami tidak berkewajiban memberikan nafkah, dan tempat tinggal kepada istri, serta tidak menimbulkan pewarisan antara keduanya.Menurut keyakinan orang syi'ah nikah mut'ah sah hukumnya walau tanpa wali/saksi.
Disini kita bisa mengambil beberapa poin,
Pertama,Nikah Mut'ah dibatasi dengan jangka waktu tertentu sesuai dengan kebutuhan atau kesepakatan.
Kedua,Dalam nikah mut'ah si suami tidak dibebani dengan tanggung jawab memberi nafkah,sandang,dan tempat tinggal kepada si istri
Ketiga,Tidak berlaku hukum waris.
dampak negatif yang ditimbulkannya sangat banyak. Di antaranya
a. Bercampurnya nasab, karena wanita yang telah dimut’ah oleh seseorang dapat dinikahi lagi oleh anaknya, dan begitu seterusnya.
b. Disia-siakannya anak hasil mut’ah tanpa pengawasan sang ayah atau pengasuhan sang ibu, seperti anak zina.
c. Wanita dijadikan seperti barang murahan, pindah dari tangan ke tangan yang lain, dan sebagainya.
d.hak-hak seorang wanita yang dinikah mut'ah tidak diberi,begitu juga dengan anaknya.
Dalam nikah mut'ah ini hak dan tanggung jawab suami,istri dan anak di hapuskan.
Nikah mut'ah (kawin kontrak) adalah hal yang di larang dalam ajaran islam.
عَن الرَّبيِْع بن سَبْرَة عَنْ أَبِيْه ِرضى الله عنه أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : ياَ أَيَّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي الاسْتِمْتاَعِ مِنَ النِّسَاءِ , وَ إِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ ذلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ , فَمَنْ كاَنَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخْلِ سَبِيْلَهُ , وَ لَا تَأْخُذُوْا مِمَّا آتَيْتمُوْهُنَّ شَيْئاً " .
Dari Rabi` bin Sabrah, dari ayahnya Radhiyallahu 'anhu, bahwasanya ia bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: "Wahai, sekalian manusia. Sebelumnya aku telah mengizinkan kalian melakukan mut'ah dengan wanita. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengharamkannya hingga hari Kiamat. Barangsiapa yang mempunyai sesuatu pada mereka , maka biarkanlah! Jangan ambil sedikitpun dari apa yang telah diberikan”.(HR.Muslim)
Allah Ta'ala berfirman,
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ
إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ
فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ
Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barangsiapa mencari yang dibalik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. [al Maarij : 29-31]
Allah Subhanahu wa Ta'ala menerangkan, sebab disahkan berhubungan badan hanya melalui dua cara. Yaitu: nikah shahih dan perbudakan. Sedangkan wanita mut'ah, bukanlah istri dan bukan pula budak.
وَمَن لَّمْ يَسْتَطِعْ مِنكُمْ طَوْلًا أَن يَنكِحَ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ فَمِن مَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُم مِّن فَتَيَاتِكُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ۚ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِكُم ۚ بَعْضُكُم مِّن بَعْضٍ ۚ فَانكِحُوهُنَّ بِإِذْنِ أَهْلِهِنَّ وَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ مُحْصَنَاتٍ غَيْرَ مُسَافِحَاتٍ وَلَا مُتَّخِذَاتِ أَخْدَانٍ ۚ فَإِذَا أُحْصِنَّ فَإِنْ أَتَيْنَ بِفَاحِشَةٍ فَعَلَيْهِنَّ نِصْفُ مَا عَلَى الْمُحْصَنَاتِ مِنَ الْعَذَابِ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ الْعَنَتَ مِنكُمْ ۚ وَأَن تَصْبِرُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Dan barangsiapa di antara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaanya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain, karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang merekapun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; dan apabila mereka telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka mengerjakan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka separo hukuman dari hukuman bagi wanita-wanita merdeka bersuami. (Kebolehan mengawini budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kesulitan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antaramu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [an Nisa`: 25].
Selain itu,doktrin sesat syi'ah juga menghalalkan pernikahakan mut'ah walau tanpa saksi.
Dari Abu ‘Abdillah ‘alaihis-salaam tentang seorang laki-laki yang menikah tanpa adanya bukti, maka ia menjawab, “Tidak mengapa.” [Al-Kaafiy, 5/387].
Sedang Allah dalam firman-Nya menyatakan perlunya wali dalam pernikahan
Allah Ta'ala berfirman,
- Quran Surat Al Baqarah 2:232 Allah berfirman:
وإذا طلقتم النساء فبلغن أجلهن فلا تعضلوهن أن ينكحن أزواجهن
Artinya: Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya.
Berdasar ayat di atas, maka Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari IX/187 mengatakan: "Ayat ini menjadi dalil yang sangat jelas atas perlunya wali dalam perkawinan.
- Quran Surah Al-Baqarah 2:221 Allah berfirman ولا تُنكحوا المشركين حتى يؤمنوا
Artinya: Dan janganlah menikahkan (anak-anak perempuan kalian) dengan orang kafir kecuali mereka beriman.
Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir hlm I/377 ayat di atas sbb: لا تُزوِّجوا الرجالَ المشركين النساء المؤمنات
Artinya: Janganlalah kalian (para wali) menikahkan laki-laki musyrik/kafir dengan wanita mukminah/muslimah.
Orang yang menikah tanpa wali/saksi maka sama saja dengan pelacur
Dari Ibnu Abbas r.a.: Rasulullah saw bersabda: البغايا اللاتى ينكحن أنفسهن بغير بينه Artinya: "Pelacur yaitu perempuan-perempuan yang mengawinkan dirinya tanpa saksi." (H.R.Tirmidzi).
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ لاَ تُزَوِّجُ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ وَلاَ تُزَوِّجُ الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا وَالزَّانِيَةُ الَّتِى تُنْكِحُ نَفْسَهَا بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَmiuiا
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Wanita tidak bisa menjadi wali wanita. Dan tidak bisa pula wanita menikahkan dirinya sendiri. Wanita pezina-lah yang menikahkan dirinya sendiri.” (HR. Ad Daruquthni, 3: 227. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dan Syaikh Ahmad Syakir)
Tujuan Adanya wali/saksi dalam pernikahan adalah agar pernikahan tersebut mendapat perlindungan hukum,diakui dan agar setiap suami istri lebih bertanggung jawab atas pasangan mereka,tidak meninggalkan pasangannya /mencampakkannya seenaknya.Sehingga terlindungilah Hak hak dan kehormatan si suami dan si istri.
Doktrin Syi'ah Nikah mut'ah ini tak ubahnya seperti pelacuran yang diberi kedok ibadah.
nikah mut'ah ini sama saja dengan seorang yang memanggil PSK/pElacur baik melalui perantara germo/mucikari atau tidak untuk tidur dengannya beberapa jam,atau beberapa malam lalu membayarnya dengan sejumlah uang.Begitu selesai,ya sudah,bubar...
Bahkan orang syi'ah,baik lelaki atau wanita yang mempraktekan nikah mut'ah lebih buruk daripada PSK dan gigolo.
Orang yang bekerja sebagai PSK/gigolo,insyaAllah mereka masih mengerti,sadar,dan tahu bahwa yang mereka lakukan itu adalah perbuatan yang jelek,buruk dan dosa sehingga masih bisa diharapkan taubatnya suatu saat nanti.Sedang orang orang syi'ah justru menganggap apa yang mereka lakukan sebagai ibadah dan mengharap pahala.Orang-orang yang semacam ini sulit untuk diharapkan toubatnya karena ia sudah menganggap baik sesuatu yang telah diharamkan.Sehingga bertumpuklah dosa dosa orang syi'ah itu,pertama karena mut'ah yang mereka lakukan,kedua,karena mereka beranggapan bahwa mut'ah tsb baik dan bagian dari ibadah,padahal sejatinya itu diharamkan dan sama saja dengan perbuatan zina.

Senin, 06 April 2015

Doktrin Sesat Ajaran Syi'ah (6) Syi'ah Mencela Sahabat Nabi



1. At-Tusi meriwayatkan dalam “Rijal al-Kasyi” bahawa Abu Ja’afar (Muhammad al-Baqir) berkata bahawa para sahabat telah murtad setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali Miqdad bin Aswad, Abu Zar al-Ghiffari dan Salman al-Farisi (Rijal al-Kasyi j.1 hal.6)
2. At-Tusi meriwayatkan lagi dari Humran katanya; Aku berkata kepada Abu Ja’far “Alangkah sedikitnya bilangan kita sehingga kalau kita berkumpul untuk merebahkan seekor biri-biri pun tidak akan mampu”. Humran berkata: Maka Abu Ja’far berkata “Mahukah aku ceritakan perkara yang lebih aneh dari itu?”. Humran berkata “Ya”. Maka Abu Jaa’far berkata “Orang-orang Muhajirin dan Ansar telah pergi (murtad) kecuali tiga (dan beliau pun mengisyaratkan dengan tangannya).” (ibid)
3. Diriwayatkan dari Abi Jaa’far “Anak-anak Ya’qub bukan nabi tetapi mereka adalah cucu dari anak-anak para Nabi. Mereka tidak meninggalkan dunia melainkan didalam keadaan bahagia. Mereka telah bertaubat dan menyesal diatas apa yang mereka lakukan tetapi Abu Bakar dan Omar telah meningal dalam keadaan tidak bertaubat dan tidak menyesali apa yang telah dilakukan oleh mereka terhadap Amirul Mu’minin Ali Rhadiallahu’anhu. Mereka berdua dilaknat oleh Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya.” (Al-Kulaini, ar-raudhah min al-kafi, j. 8, hal 246)
4. Diriwayatkan dari Abi Jaa’far kata beliau “Para sahabat telah murtad sepeninggalan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali tiga orang dari mereka.” Perawi bertanya “Siapakah yang tiga itu?”. Abi Jaa’far menjawab “Miqdad bin Aswad, Abu Zar al-Ghiffari dan Salma al-farisi.” (ibid hal.246)
--Nama beliau adalah Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib,. Ibu beliau bernama Ummu Farwah bintu Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar Ash-Shiddiq, sementara nenek beliau adalah Asma` bintu Abdirrahman bin Abi Bakar. Syiah sering mengadakan kedustaan atas nama beliau dan mereka menisbatkan banyak kebohongan dan kebatilan kepada beliau. Padahal beliau adalah seseorang yang sangat membenci Rafidhah, sebagiamana yang Adz-Dzahabi sebutkan dalam Siyar A’lam (1/255) --
5. Ayatullah al-Uzma sayyid Murtadha al-Hussaini al-Fairuzabadi didalam kitabnya “As-sab’ah min as-salaf” telah mengkafirkan Abu Bakar, Omar, Othman, Abd. Rahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqas, Abu Ubaidah al-Jarrah, Muawiyah, Abu Said al-Khudri, Bara’ bin Azib dan lain-lain (Lihat hal. 29,32,71,78,81,85,107,120 dan 211)
6. Ayatullah al-Uzma Khomeini didalam kitabnya “Kasyful al-asrar” telah mengkafirkan Saidina Umar (lihat hal 137 dan 176 edisi Arab dan hal 119 dan 153 edisi Parsi). Beliau menganggap Abu Bakar dan Umar jahil tentang hukum Allah dan mereka menjadikannya sebagai bahan permainan kanak-kanak (hal 110-111 edisi Parsi). Beliau juga menuduh Abu Bakar dan Omar mereka hadis atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam (hal 131 dan 138 edisi Arab, 114 dan 120 edisi Parsi)
7. Syaikh kaum Rafidhah yang bernama Ni’matullah al-Jazairi berkata, “Telah datang beberapa riwayat khusus yang menerangkan bahwa setan dibelenggu dengan 70 belenggu dari besi neraka Jahannam, lalu digiring ke Padang Mahsyar. Di sana setan melihat seorang lelaki di hadapannya yang sedang digiring oleh malaikat penyiksa dan di lehernya terdapat 120 belenggu dari neraka Jahannam. Setan pun mendekat kepadanya dan bertanya, ‘Apa yang dilakukan oleh orang sengsara ini sehingga siksaannya lebih berat dariku, padahal akulah yang menyimpangkan seluruh makhluk dan menjerumuskan mereka ke dalam kebinasaan?’ Umar berkata kepada setan, ‘Aku tidak melakukan sesuatu pun selain merampas khilafah Ali bin Abi Thalib’.” (al-Anwar an- Nu’maniyah, 1/81—82]
8. Abû Bakar, ‘Umar, Utsman bin Affan, Muâwiyah, ‘Aisyah, Hafshah, Hindûn, dan Ummul Hakâm adalah makhluk yang paling jelek di muka bumi; mereka ini adalah musuh-musuh Allah. Barangsiapa yang tidak memusuhi mereka, maka tidaklah sempurna imannya kepada Allah, Rasul-Nya, dan imam-imam Syi’ah (Haqqul Yâqîn hlm. 519 oleh Muhammad Baqîr al-Majlisî).
9. Rasulullah dan para sahabat akan dibangkitkan sebelum hari kiamat. Imam Mahdi, sebelum hari kiamat, akan datang dan dia membongkar kuburan Abû Bakar dan ‘Umar yang ada di dekat kuburan Rasulullah. Setelah dihidupkan, kedua orang ini akan disalib. (Haqqul Yaqîn hlm. 360 oleh Mulla Muhammad Baqîr al-Majlisî)

Sahabat Rasulullah adalah orang yang baik dan mulia karena mereka sangat dekat dengan Beliau.Tapi oleh Syi'ah ,sahabat-sahabat Rasulullah malah dianggap murtad,kafir.

Keutamaan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak dijelaskan di dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100)
وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Fath: 29)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat tersebut, “Dari ayat ini, al-Imam Malik rahimahullah -dalam sebuah riwayat- mengambil kesimpulan hukum tentang kafirnya kaum Syiah Rafidhah yang membenci para sahabat. Beliau berkata, ‘Sebab, para sahabat membuat mereka (Syiah) jengkel, dan siapa yang mengghibah para sahabat, dia kafir berdasarkan ayat ini.’ Sebagian ulama menyepakati beliau dalam hal ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, 12/135)
Larangan mencela sahabat Nabi lebih ditegaskan lagi oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,
تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْا أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا ما بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ
“Jangan kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang kalian berinfak emas sebesar Bukit Uhud, tidak akan menyamai infak satu mud yang mereka keluarkan, bahkan tidak pula setengahnya.” (HR. al-Bukhari no. 3470, Muslim no. 2541, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu. Dalam riwayat Muslim disebut dengan lafadz, “Jangan kalian mencela seorang pun dari sahabatku”. Diriwayatkan pula oleh Muslim no. 2540, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
"Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia" (Qs Ali Imron : 110)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga telah menekankan hal ini dalam sabdanya;
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي
"Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu para sahabat)" (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)
Mengkafirkan para sahabat mulia seperti Abu Bakar dan Umar sesungguhnya merupakan celaan kepada Ali Bin Abi Thoolih radhiallahu 'anhu. Hal ini nampak dari beberapa sisi :
Pertama : Ali bin Abi Tholib radhiallahu 'anhu menamakan beberapa putranya dengan nama-nama sahabat, yang menunjukkan kecintaan Ali kepada mereka.
Ali bin Abi Thoolib radhiallahu 'anhu memiliki anak-anak yang bernama Abu Bakar bin Ali, Umar bin Ali, Utsman bin Ali, hal ini tentunya karena begitu cintanya beliau kepada Abu Bakar, Umar dan Utsman maka. Ketiga putra beliau tersebut termasuk orang-orang yang meninggal tatkala peristiwa karbala bersama saudara mereka yang terbunuh Al-Husain bin Ali radhiallahu 'anhumaa.
Demikian pula ternyata Al-Hasan bin Ali telah menamakan sebagian anak-anaknya dengan nama Abu Bakr, Umar, dan Tolhah. Yang ketiga putranya tersebut juga terbunuh dalam peristiwa karbala.
Demikian pula halnya dengan Al-Husain beliau memiliki seorang putra yang bernama Umar.
Demikian pula halnya dengan Ali bin Al-Husain bin Ali telah menamakan putrinya dengan nama Aisyah, serta menamakan salah seorang putranya dengan nama Umar
Kedua : Ali menikahkan putrinya Ummu Kaltsum dengan Umar bin Al-Khottoob,maka apakah Ali menikahkan putrinya dengan seorang toghuut ?
Imam Malik berkata
إنما هؤلاءِ أقوامٌ أرادوا القدحَ في النبيِّ صلى الله عليه وسلم فلَمْ يُمكنهم ذلك , فقدَحُوا في أصحابه حتى يُقال : رجلُ سوءٍ ، ولو كانَ رجلاً صالحاً لكانَ أصحابهُ صالحين
"Sesungguhnya mereka adalah kaum yang ingin mencela Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, akan tetapi hal itu tidak memungkinkan mereka, maka merekapun mencela para sahabat Nabi, agar dikatakan : Muhammad adalah seorang lelaki yang buruk, kalau seandainya ia adalah seorang lelaki yang sholeh tentunya para sahabatnya juga kaum yang sholeh" (Risaalah fi sabb As-Shohaabah hal 47)
Barkallaha fiikum
Wallahu a'lam bish shawab

Taqiyah,Doktrin Ajaran Syi'ah Yang Paling Berbahaya!



Peringatan Ulama tentang Kedustaan Syiah
TOLAK SETIAP INFORMASI DARI KAUM SYI'AH !!
Keterangan Al-Kulaini, tokoh syiah ini meriwayatkan dari Ja’far As-Shadiq,
التقية من ديني ودين آبائي ولا إيمان لمن لا تقية له
“Taqiyah bagian dari agamaku dan agama bapak-bapakku. Tidak ada iman bagi orang yang tidak melakukan taqiyah.”
Dia juga meriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far,
إن تسعة أعشار الدين في التقية , ولا دين لمن لا تقية له
“Sesungguhnya sembilan persepuluh (90%) bagian agama adalah taqiyah. Tidak ada agama bagi orang yang tidak melakukan taqiyah.”
[Ushul Al-Kafi 2/217, Biharul Anwar 75/423, dan Wasail Syiah 11/460].
Dalam bukunya Al-Makasib Al-Muharramah, Khomaini mengatakan,
فلا شبهة في عدم احترامهم، بل هو من ضروري المذهب كما قال المحققون، بل الناظر في الأخبار الكثيرة في الأبواب المتفرقة لا يرتاب في جواز هتكهم والوقيعة فيهم، بل الأئمة المعصومون أكثروا في الطعن واللعن عليهم، وذكر مساويهم… والظاهر منها جواز الافتراء والقذف عليهم.
“Tidak ada lagi keraguan, bahwa mereka (ahlus sunah), tidak memiliki kehormatan. Bahkan itu bagian prinsip penting dalam madzhab syiah, sebagaimana yang disampaikan ulama. Orang yang mempelajari berbagai riwayat yang banyak dalam berbagai kajian yang berbeda, tidak akan ragu tentang bolehnya merusak mereka dan menyakiti mereka. Bahkan para imam maksum, sangat sering mencela, melaknat, serta menghina mereka (ahlus sunah)….dan yang zahir, boleh membuat kedustaan dan melemparkan kedustaan kepada mereka”
[Al-Makasib Al-Muharramah, Al-Khumaini, Muassasah Ismailiyan, cet. Ketiga, 1410 H. Jilid 1, hlm. 251 – 252].
Hal yang sama juga disampaikan Al-Khou’i – salah satu tokoh syiah yang sangat membenci ahlus sunah – ,
… وأما هجو المخالفين أو المبدعين في الدين فلا شبهة في جوازه؛ لأنه قد تقدم في مبحث الغيبة، أن المراد بالمؤمن هو القائل بإمرة الإثني عشر (عليهم السلام)، … ومن الواضح أن ما دل على حرمة الهجو مختص بالمؤمن من الشيعة، فيخرج غيرهم عن حدود حرمة الهجو موضوعاً…. أنه قد تقتضي المصلحة الملزمة جواز بهتهم والإزراء عليهم، وذكرهم بما ليس فيهم افتضاحاً لهم، والمصلحة في ذلك استبانة شؤونهم لضعفاء المؤمنين، حتى لا يغتروا بآرائهم الخبيثة
“Menghina kaum yang menyimpang atau para pelaku bid’ah dalam agama (ahlus sunah), tidak samarnya, hukumnya boleh. Sebagaimana pembahasan ghibah yang telah lewat, bahwa yang dimaksud orang mukmin adalah mereka yang mengikuti prinsip kepemimpinan imam dua belas ‘alaihimus salam,… dan sangat jelas, dalil yang menunjukkan larangan menghina, hanya tertuju kepada orang syiah yang beriman. Sehingga tidak termasuk selain syiah, mereka di luar batas larangan penghinaan.… Berdasarkan tuntutan kemaslahatan yang kuat, boleh memfitnah mereka, melemparkan kedustaan kepada mereka, menyebutkan kesalahan yang tidak mereka lakukan, untuk mempermalukan mereka. Bentuk maslahat dalam hal ini adalah membeberkan keadaan buruk mereka, mengingat kaum muskminin (baca: Syiah) masih lemah. Sehingga syiah yang lemah iman ini tidak tertipu dengan pemikiran buruk mereka…”
[Misbah Al-Faqahah, Al-Khou’i, penerbit Al-Ilmiah, Qom, cet. Pertama, jilid 1, hlm. 700 – 701].
Peringatan Ulama tentang Kedustaan Syiah
Memahami kenyataan prinsip taqiyah, para ulama kaum muslimin sejak masa silam telah mengingatkan penipuan mereka. Mereka menolak informasi dari syiah, karena memiliki sifat dasar: pembohong. Berikut pernyataan mereka,
1. Keterangan Imam Malik
Asyhab – ulama Malikiyah – mengatakan,
سئل مالك عن الرافضة ؟ قال لا نكلمهم ولا نروي عنهم فإنهم يكذبون
“Imam Malik ditanya tentang rafidhah (syiah). Jawaban beliau: “Kami tidak mau bicara dengan mereka, tidak meriwayatkan dari mereka, karena mereka suka berdusta.”
2. Keterangan Imam As-Syafii
Diriwayatkan oleh Harmalah – salah satu murid Imam As-Syafii –,
سمعت الشافعي يقول لم أر أشهد بالزور من الرافضة
“Saya mendengar As-Syafii mengatakan, ‘Saya belum pernah mengetahui ada kelompok yang paling mudah berdusta melebihi rafidhah (syiah).”
3. Yazid bin Harun Al-Wasithi – salah satu ulama tabi’ tabiin – mengatakan,
يكتب عن كل صاحب بدعة إذا لم يكن داعية إلا الرافضة فإنهم يكذبون
“Boleh ditulis semua hadis dari pelaku bid’ah, selama dia bukan tokohnya. Kecuali rafidhah, karena mereka suka berdusta.”
[Simak 3 keterangan di atas dalam An-Nukat ‘ala Muqadimah Ibnu Sholah, Az-Zarkasyi, 3/399 dan Tadribur Rawi, As-Suyuthi, 1/327].
4. Syarik bin Abdillah – seorang Qadhi Kufah di zaman Imam Abu Hanifah – mengatakan,
أحمل العلم عن كل من لقيت إلا الرافضة فإنهم يضعون الحديث ويتخذونه دينا
“Saya menimba ilmu (hadis) dari setiap orang yang saya jumpai, kecuali rafidhah (syiah). Karena mereka memalsu hadis dan menjadikannya sebagai aturan agama.” (Tadribur Rawi, As-Suyuthi, 1/327).
5. Bahkan hanya sebatas mencela sahabat, hadisnya sudah tidak boleh diterima, karena diduga syiah. Itulah kehati-hatian yang dilakukan Ibnul Mubarok – gurunya Imam Bukhari –, beliau mengatakan,
لا تحدثوا عن عمرو بن ثابت فإنه كان يسب السلف
“Janganlah kalian mengambil hadis dari Amr bin Tsabit. Karena dia melaknat para sahabat.” (Tadribur Rawi, As-Suyuthi, 1/327).
6. Syaikhul Islam mengatakan
وقد اتفق أهل العلم بالنقل والرواية والإسناد على أن الرافضة أكذب الطوائف والكذب فيهم قديم ولهذا كان أئمة الإسلام يعلمون امتيازهم بكثرة الكذب
“Para ulama sepakat, berdasarkan nukilan, riwayat, dan sanad, bahwa rafidhah (syiah) adalah kelompok paling pendusta. Dan dusta bagi mereka, ada sejak masa silam. Karena itu, para ulama islam mengenal ciri khas mereka dengan banyaknya berdusta.” Selanjutnya, Syaikhul Islam menyebutkan beberapa riwayat di atas. (Minhaj As-Sunah An-Nabawiyah, 1/59).
7. Keterangan lainnya dari Ibnu Hazm, dalam karyanya tentang firqah dan kelompok-kelompok yang menisbahkan dirinya kepada islam,
… إنما هي فرق حدث أولها بعد موت النبي صلى الله عليه وسلم بخمس وعشرين سنة …وهي طائفة تجري مجرى اليهود والنصارى في الكذب والكفر
Rafidhah (syiah) adalah kelompok yang pertama kali muncul 25 tahun setelah meninggalnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam… dan itulah kelompok yang sangat persis denga Yahudi dan Nasrani dalam hal berdusta dan melakukan kekufuran. (Al-Fashl fi Al-Milal wa Al-Ahwa wa An-Nihal, Ibnu Hazm, 1/176).
Barakallah fiikum
Wallahu a'lam bish Shawab

Doktrin Sesat Ajaran Syi'ah (5)Syi'ah Menganggap Taqiyah (Berdusta/berbohong) Sebagai Bagian Dari Ibadah




– ”Kulani menukil dari Abdullah, ia berkata: Taqwalah atas agamamu dan berhijablah dengan “taqiyah”, maka sesungguhnya tidak sempurna iman seseorang apabila tidak berdusta (taqiyah). (Ushulul Kaafi hal. 483. Al Kaafi merupakan salah satu kitab pegangan pokok mereka dalam hal aqidah dan agama Syi’ah Imamiah).
– Kulaini mengatakan dari Abdullah ia berkata: Adalah Bapakku mengatakan: “Dan apakah yang dapat menenangkan pikiranku selain berdusta (taqiyah). Sesungguhnya taqiyah adalah surga bagi orang yang beriman.” (Ushul Al-Kaafi hal.484).
– Jagalah agama kalian dan lindungilah dengan taqiyah, sesungguhnya tidak beriman bagi siapa yang tidak bertaqiyah. (Al Kulani dalam Ushul Al-Kafi, I/218).
– Diriwayatkan dari Ali bin Muhammad: “Wahai Daud! Sekiranya kamu mengatakan bahawa orang yang meninggalkan taqiyah sama seperti orang yang meninggalkan solat, maka sesungguhnya betullah kata-katamu itu”.[ Lihat: Wasail asy-Syiah (X1/466). Cetakan Tehran.]
Taqiyah (berkata dusta) sangat bertentangan dengan firman Allah dan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang memerintahkan kita untuk bersikap jujur dan menjauhi perkataan dusta.

Allah Ta'ala berfirman,

ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَ قُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَ يَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَ مَنْ يُّطِعِ اللهَ وَ رَسُوْلَه فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. الاحزاب:70-71
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amal-amalmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya,
maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. [QS. Al-Ahzab : 70 - 71]
ياَيُّهَا الَّذَيْنَ امَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لاَ تَفْعَلُوْنَ. كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا
لاَ تَفْعَلُوْنَ. الصف:2-3
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. [QS. Ash-Shaff : 2 - 3]
وَ مَنْ يَّكْسِبْ خَطِيْئَةً اَوْ اِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِه بَرِيْئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَّ اِثْمًا مُّبِيْنًا. النساء:112
Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata. [QS. An-Nisaa’ : 112]
إِنَّمَا يَفْتَرِى ٱلْكَذِبَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَٰذِبُونَ
Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.
(QS: An-Nahl Ayat: 105)
قَالَ لَهُم مُّوسَى وَيْلَكُمْ لا تَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا فَيُسْحِتَكُمْ بِعَذَابٍ وَقَدْ خَابَ مَنِ افْتَرَى
“Musa berkata kepada mereka, “Celakalah kalian, janganlah kalian mengada-adakan kedustaan atas nama Allah, karena Dia akan membinasakan kalian dengan siksa”. Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan.” (QS. Thaha: 61)
وَلَا تَقُولُوا۟ لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ ٱلْكَذِبَ هَٰذَا حَلَٰلٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ ٱلْكَذِبَ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.(QS: An-Nahl Ayat: 116)
Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasalama juga bersabda,
عَنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: عَلَيْكُمْ بِالصّدْقِ فَاِنَّ الصّدْقَ يَهْدِى اِلىَ اْلبِرّ وَ اِنَّ اْلبِرَّ يَهْدِى اِلىَ اْلجَنَّةِ. وَ مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَ يَتَحَرَّى الصّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدّيْقًا. وَ اِيَّاكُمْ وَ اْلكَذِبَ فَاِنَّ اْلكَذِبَ يَهْدِى اِلىَ اْلفُجُوْرِ وَ اِنَّ اْلفُجُوْرَ يَهْدِى اِلىَ النَّارِ. وَ مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَ يَتَحَرَّى اْلكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا. مسلم 4: 2013
Dari ‘Abdullah (bin Mas’ud), ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu membawa ke surga. Dan terus-menerus seseorang berlaku jujur dan memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena sesungguhnya dusta itu membawa kepada kedurhakaan, dan sesungguhnya durhaka itu membawa ke neraka. Dan terus menerus seseorang berdusta dan memilih yang dusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai
pendusta”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2013]
عَنْ اَبِى بَكْرٍ الصّدّيْقِ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: عَلَيْكُمْ بِالصّدْقِ، فَاِنَّهُ مَعَ ا
ْلبِرّ وَ هُمَا فِى اْلجَنَّةِ. وَ اِيَّاكُمْ وَ اْلكَذِبَ، فَاِنَّهُ مَعَ اْلفُجُوْرِ وَ هُمَا فِى النَّارِ. ابن حبان فى صحيحه، فى الترغيب و الترهيب 3: 591
Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena jujur itu bersama kebaikan, dan keduanya di surga. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena dusta itu bersama kedurhakaan, dan keduanya di neraka”. [HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 591]
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اِضْمَنُوْا لىِ سِتًّا مِنْ اَنْفُسِكُمْ، اَضْمَنْ لَكُمُ اْلجَنَّةَ. اُصْدُقُوْا اِذَا حَدَّثْتُمْ، وَ اَوْفُوْا اِذَا وَعَدْتُمْ، وَ اَدُّوْا اِذَا ائْتُمِنْتُمْ، وَ احْفَظُوْا فُرُوْجَكُمْ، وَ غُضُّوْا اَبْصَارَكُمْ، وَ كُفُّوْا اَيْدِيَكُمْ. احمد و ابن ابى الدنيا و ابن حبان فى صحيحه و الحاكم و البيهقى، فى الترغيب و الترهيب 3: 587
Dari ‘Ubadah bin Shamit RA sesungguhnya Nabi SAW bersabda, “Hendaklah kalian menjamin padaku enam perkara dari dirimu, niscaya aku menjamin surga bagimu : 1. Jujurlah apabila kamu berbicara, 2. Sempurnakanlah (janjimu) apabila kamu berjanji, 3. Tunaikanlah apabila kamu diberi amanat, 4. Jagalah kemaluanmu, 5. Tundukkanlah pandanganmu (dari ma’shiyat) dan 6. Tahanlah tanganmu (dari hal yang tidak baik)”. [HR. Ahmad, Ibnu Abid-Dunya, Ibnu Hibban di dalam shahihnya, Hakim dan Baihaqi,
dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 587]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَ لاَ ي
ُزَكّيْهِمْ (قَالَ اَبُوْ مُعَاوِيَةَ: وَ لاَ يَنْظُرُ اِلَيْهِمْ) وَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ: شَيْخٌ زَانٍ وَ مَلِكٌ كَذَّابٌ وَ عَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ. مسلم 1: 102
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tiga golongan yang Allah tidak akan berbicara dengan mereka pada hari qiyamat, dan Dia tidak mensucikannya, (perawi Abu Mu’awiyah berkata, “Dan Allah tidak mau melihat mereka”), dan bagi mereka siksa yang pedih. Yaitu : 1. orang tua yang berzina, 2. raja (penguasa) yang banyak berdusta, dan 3. orang miskin yang sombong”. [HR. Muslim juz 1, hal. 102]
عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رض قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ فَهُوَ مُنَافِقٌ وَ اِنْ صَامَ وَ صَلَّى وَ حَجَّ وَ اعْتَمَرَ، وَ قَالَ اِنّى مُسْلِمٌ. اِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَ اِذَا وَعَدَ اَخْلَفَ وَ اِذَا ائْتُمِنَ خَانَ. ابو يعلى، فى الترغيب و الترهيب 3: 594
Dari Anas bin Malik RA ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga perkara yang apabila tiga perkara itu ada padanya maka ia adalah orang munafiq, meskipun ia puasa, shalat, hajji, umrah dan mengatakan, “Sesungguhnya saya orang Islam”, yaitu : 1. Apabila berbicara ia berdusta, 2. Apabila berjanji menyelisihi dan 3. Apabila diberi amanat ia khianat”. [HR. Abu Ya'la, dalam Taghib wat Tarhib juz 3, hal. 594)
عَنِ اْلحَسَنِ بْنِ عَلِيّ رض قَالَ: حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ ص: دَعْ مَا يُرِيْبُكَ اِلىَ مَا لاَ يُرِيْبُكَ. فَاِنَّ الصّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ، وَ اْلكَذِبَ رَيْبَةٌ. الترمذى و قال حديث حسن صحيح، فى الترغيب و الترهيب 3: 598
Dari Hasan bin Ali RA ia berkata : Saya hafal dari Rasulullah SAW (beliau bersabda), “Tinggalkan apa-apa yang meragukanmu (berpindahlah) kepada apa-apa yang tidak meragukanmu, karena jujur itu adalah ketenangan dan dusta itu adalah keraguan”. [HR. Tirmidzi dan ia berkata : Hadits Hasan Shahih, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 598]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ يُؤْمِنُ اْلعَبْدُ اْلاِيْمَانَ كُـلَّهُ حَتَّى يَتْرُكَ اْلكَذِبَ فِى اْلمَزَاحَةِ وَ اْلمِرَاءِ وَ اِنْ كَانَ صَادِقًا. احمد و الطبرانى، فى الترغيب و الترهيب 3: 594
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah beriman seorang hamba dengan iman sepenuhnya sehingga ia meninggalkan berdusta dalam bergurau dan (meninggalkan) berbantah meskipun ia benar”. [HR. Ahmad dan Thabrani, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 594]
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 107 dan Muslim no. 3)
Al-Mughirah radhiallahu anhu berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta atas nama orang lain. Karena barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya dari neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 1209 dan Muslim no. 4)

Barakallah fiikum
Wallahu a'lam bish shawab

Doktrin Sesat Ajaran Syi'ah (4) Menurut Syi'ah Al-Qur'an Sudah Tidak Murni Lagi?



Al-Qur’an yang ada sekarang telah berubah, dikurangi, dan ditambah (Ushûlul Kâfi hlm. 670). Salah satu contoh ayat al-Qur’an yang dikurangi dari aslinya yaitu ayat al-Qur’an an-Nisâ’ [4]: 47, menurut versi Syi’ah berbunyi: “Yâ ayyuhalladzîna ûwtul kitâba âminû bimâ nazzalnâ fî ‘Aliyyin nûranmubînan“. (Fashlul Khithâb, hlm. 180)
.Menurut Syi’ah, al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Nabi Muhammad ada 17 ribu ayat, namun yang tersisa sekarang hanya 6660 ayat (Ushûlul Kâfi hlm. 671)
.Kaum syi'ah tdk meyakini kemurnian Al-Qur an karnanya mereka tidak membacanya kecuali hanya untuk taqiyyah (kamuflase), karena Al-Qur’an yang benar menurut mereka yaitu al-Qur’an yang berada di tangan al-Mahdi yang ditunggu kedatangannya.
Padahal Allah Ta'ala berfirman
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr. 9)
Al-Qur'an dijaga kemurniannyan oleh Allah Ta'ala sampai akhir zaman.Sehingga tidak patut bagi orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya meragukan janji Allah Ta'ala ini.
Allah Ta'ala berfirman,
ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”.(QS.Al-Baqarah :2)
Dan Allah Azza wa Jalla menantang orang yang ragu terhadap Al-Qur'an untuk membuat satu surah saja semisal Al-Qur'an.
وَإِن كُنتُمْ فِى رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا۟ بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِۦ وَٱدْعُوا۟ شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ
“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang kami wahyukan kepada hamba kami (muhammad), buatlah satu surah (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolognmu selain Allah , jika kamu orang-orang yang benar”.
(Al Baqarah :23)
Allah mempertegas bahwa Al-Qur’an itu benar-benar kitab Allah Ta'ala, yang selalu terjaga keutuhanya sampai sekarang. Didalam ayat tersebut juga menantang kepada manusia yang ragu terhadap kemurnian Al-Qur'an,bisakah mereka membuat sebuah surah saja yang serupa dengan Al-Qur’an? Sesungguhnya kalimat-kalimat dalam Al-Qur’an merupakan kalam ilahi dan mukjizat terbesar yang di dapat oleh Rasul yang tidak dapat ditiru oleh siapapun bahkan oleh semua ahli sastra dan bahasa manapun.
Barakallaha fiikum
Wallahu a'lam bish shawab

Doktrin Sesat Ajaran Syi'ah (3) : Ali Bin Abi Thalib dan Para Imam Syi'ah mengetahui hal yang ghaib?



Amirul Mukminin ‘Ali bin Abî Thâlib oleh Syi’ah dikatakan menjadi wakil Allah dalam menentukan surga dan neraka, memperoleh sesuatu yang tidak diperoleh oleh manusia sebelumnya, mengetahui yang baik dan yang buruk, mengetahui segala sesuatu secara rinci yang pernah terjadi dahulu maupun yang gaib (Ushûlul Kâfi hlm. 84).
Para imam mengetahui apa pun yang tersembunyi dan dapat mengetahui dan menjawab apa saja bila kita bertanya kepada mereka karena mereka mengetahui hal gaib sebagaimana yang Allah ketahui (Ushûlul Kâfi hlm. 193).
Para imam Syi’ah mengetahui kapan datang ajalnya dan mereka sendiri yang menentukan saat kematiannya karena bila imam tidak mengetahui hal-hal semacam itu, maka tentu ia tidak berhak menjadi imam (Ushûlul Kâfi hlm. 158).
.Allah itu bersifat bada’ yaitu baru mengetahui sesuatu bila sudah terjadi. Akan tetapi, para imam Syi’ah telah mengetahui lebih dahulu hal yang belum terjadi (Ushûlul Kâfi hlm. 40). Menurut al-Kulainî, Allah tidak mengetahui bahwa Husein bin ‘Ali akan mati terbunuh. Menurut mereka Tuhan pada mulanya tidak tahu, karena itu Tuhan membuat ketetapan baru sesuai dengan kondisi yang ada. Akan tetapi, imam Syi’ah telah mengetahui apa yang akan terjadi. Oleh sebab itu, menurut doktrin Syi’ah, Allah bersifat bada’ (Ushûlul Kâfi hlm. 232).
Ini merupakan doktrin sesat dan mengandung syirik,karena hanya Allah yang mengetahui pekara pekara yang Ghaib,dan manusia termasuk Rasul-Nya tidak mengetahui hal yang ghaib melainkan hanya sedikit sesuai atas izin dan kehendak Allah Ta'ala dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Allah berfirman,
عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ
“(Dialah Allah) Yang Maha Mengetahui (perkara) yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya.” (QS. Al-Jin [72] : 26-27)
“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhoi-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (QS Jin: 26,27)
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok . Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Luqman: 34).
“Dan hanya di sisi-Nya lah kunci-kunci ilmu gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia” (QS Al An’aam: 59).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -manusia yang paling memahami Al Quran- menafsirkan bahwa kunci-kunci ilmu gaib tersebut ada lima macam. Beliau bersabda yang artinya, ”Kunci-kunci ilmu gaib ada lima, hanya Allah yang mengetahuinya: tidak ada yang tahu apa yang terjadi esok hari kecuali Allah, tidak ada yang tahu apa yang dikandung oleh rahim kecuali Allah, tidak ada yang tahu kapan turun hujan kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang tahu di bumi mana dia akan meninggal, dan tidak ada yang tahu kapan terjadi hari kiamat kecuali Allah.” (HR Bukhori)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum orang yang mengaku mengetahui yang ghaib ?
Jawaban.
Hukum orang yang mengaku mengetahui ilmu yang ghaib adalah kafir, karena ia mendustakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia berfirman.
“Artinya : Katakanlah : “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan” [An-Naml : 65]
Barakallah fiikum
Wallahu a'lam bish shawab